Buntut Bising di Kedai Kopi: Oknum Wartawan Diduga ‘Gunakan’ Media Usai Ditegur Manajer Good Speed Coffee

Manajer GS Coffee berikan klarifikasi terkait oknum wartawan Bitung
Manajer GS Coffee berikan klarifikasi terkait oknum wartawan Bitung
banner 120x600

SULUTBANUA.COM, BITUNG — Penyalahgunaan profesi jurnalis dan aksi sewenang-wenang di ruang publik kembali memicu kontroversi panas di Kota Bitung. Manajer Good Speed (GS) Coffee, Andi Ilham Mahyuddin, meluapkan kemarahannya dan mengecam keras pemberitaan media online MMCnews.id yang dinilainya sarat akan sentimen personal serta bentuk intimidasi media. Senin, 12 Oktober 2026.

​Polemik ini meledak setelah MMCnews.id menayangkan berita bertajuk “CUSTOMER MULAI GERAH! Etika Manajer Good Speed Coffee Disorot, Owner Diminta Turun Tangan” pada Minggu (11/10/2026). Berita tersebut menyudutkan etika kepemimpinan Andi. Namun, di balik narasi dramatis tersebut, terungkap dugaan aksi main hakim sendiri dari oknum wartawan yang tak terima ditegur saat membuat kegaduhan.

​Saat ditemui di Kedai Kopi Arteri, Wangurer Timur, Minggu malam (11/10/2026), Andi membongkar kronologi mengejutkan di balik perseteruan ini.

​Peristiwa bermula pada Minggu sore sekitar pukul 17:00 WITA, ketika rombongan empat orang—yang di antaranya merupakan oknum wartawan—mendatangi Good Speed Coffee cabang Saung (MM Kuliner). Rombongan tersebut nekad membawa perangkat konsol PlayStation (Playbox) sendiri dari luar kedai.

​Padahal, meski beberapa cabang Good Speed memang menjalin kerja sama resmi dengan pihak Playbox, cabang Saung secara tegas tidak termasuk dalam skema kerja sama tersebut.

​Arogansi rombongan makin memuncak saat mereka menyalakan perangkat Playbox tersebut dengan volume sangat keras hingga memicu kegaduhan. Suara bising tersebut mendatangkan protes keras dari para pengunjung (customer) lain yang merasa hak kenyamanannya dirampas.

​Mendapat aduan dari konsumen yang merasa terganggu, Andi mendatangi meja rombongan untuk memberikan teguran secara santun. Namun, iktikad baik tersebut seolah tak digubris—kata “permisi” yang diucapkan Andi bahkan kalah nyaring dan terdistraksi oleh gelegar suara konsol game milik rombongan tersebut.

​Demi melindungi kenyamanan pengunjung umum, Andi mengambil langkah tegas secara spontan dengan mematikan/mengecilkan volume Playbox tersebut secara mandiri. Merasa ‘tersenggol’, rombongan oknum wartawan tersebut langsung angkat kaki dari lokasi.

​Tak butuh waktu lama pasca-kejadian, terbit narasi pemberitaan yang menyudutkan etika manajer Good Speed Coffee tanpa pernah ada proses konfirmasi (check and balance) maupun wawancara penyeimbang kepada Andi. Tindakan menayangkan berita tanpa klarifikasi ini memicu dugaan kuat bahwa media tersebut dijadikan alat balasan personal atas rasa tidak terima saat ditegur.

​Andi mengecam keras tindakan oknum yang dinilainya mengangkangi kode etik jurnalistik demi menutup-nutupi ulah mereka sendiri.

​“Kami sangat menghormati profesi jurnalis. Namun, menyalahgunakan kapasitas wartawan untuk berbuat sekehendak hati saat menjadi pengunjung, lalu menayangkan berita tanpa konfirmasi hanya karena tidak terima ditegur saat membuat kegaduhan, adalah tindakan yang sangat jauh dari kode etik jurnalistik,” tegas Andi.

​Skandal ini kini memancing reaksi keras publik di Bitung, mempertanyakan batas antara kebebasan pers dan aksi sewenang-wenang oknum media yang merasa kebal hukum saat berada di ruang publik.

banner 325x300

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *