SULUTBANUA.COM, BOLTIM — Hukum seolah kehilangan tajinya di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR). Aktivitas pertambangan ilegal kini bukan sekadar rahasia umum, melainkan sebuah eksploitasi gila-gilaan yang dipertontonkan secara terang-terangan.
Para pelaku seakan tak lagi punya rasa takut. Bagaimana tidak? Promosi bahan kimia berbahaya yang digunakan untuk mengeruk emas kini beredar bebas dan vulgar di media sosial. Kawasan hutan yang seharusnya menjadi benteng ekologis dan penyangga nyawa ribuan masyarakat, kini dibabat tanpa ampun demi memuaskan kerakusan segelintir pihak.

Fenomena ini memicu kemarahan dan keresahan ekstrem di tengah warga. Mereka bukan lagi sekadar mempertanyakan selembar izin legalitas, melainkan nyawa dan masa depan ruang hidup mereka yang sedang dipertaruhkan.
Ancaman maut ini makin terasa nyata di depan mata seiring pergantian musim. Hutan yang sudah terdegradasi parah dan gundul menjadi “bom waktu” ekologis yang siap meledak kapan saja saat curah hujan tinggi mulai mengguyur BMR.
Lutfi Mokodongan, warga Bolaang Mongondow, membunyikan alarm keras. Ia mendesak Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) untuk segera “turun gunung” dan tidak tinggal diam melihat perampasan kawasan hutan ini. Ancaman utamanya bukan hanya pohon yang hilang, melainkan bencana berantai yang mematikan.
Tanah yang sudah dikeruk dan kehilangan vegetasinya, kata Lutfi, sudah tak mampu lagi menahan debit air.
“Takutnya sekarang musim panas, tanah lagi renggang, hutan sudah mulai gundul akibat aktivitas tambang. Terus hujan datang, akibatnya, kita dilanda lagi bencana banjir bandang. Apalagi banjir bandang kita sering diikuti kayu besar akibat penggundulan hutan,” beber Lutfi dengan nada khawatir.
Lutfi menegaskan, kerusakan ini tak boleh dipandang remeh. Saat tanah hancur, risiko maut langsung mengintai permukiman, melumpuhkan infrastruktur, menenggelamkan lahan pertanian, dan mengancam keselamatan warga. Tambang ilegal yang serampangan ini tak ubahnya sedang mengundang bencana mematikan yang baru akan disesali ketika hujan badai tiba.
Wabah tambang ilegal ini ternyata sudah menggerogoti nyaris seluruh urat nadi BMR. Keresahan serupa dilontarkan Rian Alamri, warga Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Ia membongkar fakta bahwa perusakan ini terjadi secara masif, membentang dari wilayah Bolaang Mongondow Timur, Kotamobagu, Bolaang Mongondow Selatan, hingga Bolaang Mongondow.
Rian menyoroti betapa negara sedang ‘dikibuli’. Di satu sisi, sumber daya alam dijarah habis-habisan oleh oknum tak bertanggung jawab, namun di sisi lain, negara dan daerah tidak mendapat sepeser pun penerimaan dari aktivitas ilegal ini.
“Kalau aktivitas pertambangan dilakukan secara ilegal, yang dirugikan bukan hanya negara dari sisi penerimaan. Masyarakat juga menanggung dampak ketika hutan rusak dan lingkungan mengalami degradasi,” tegas Rian.
Menurutnya, ini adalah sebuah ironi yang memalukan. Kekayaan mineral BMR yang melimpah ruah seharusnya dikelola dengan tata kelola transparan dan legal, bukan diserahkan pada “mafia” yang mengeruk untung lalu mewariskan beban ekologis dan bencana kepada rakyat kecil.
Rian pun dengan tajam mempertanyakan tumpulnya taring penegakan hukum di BMR. Mengapa eksploitasi di depan mata ini dibiarkan terus berlangsung? Jika penegak hukum lamban dan tidak ada langkah tegas, wajar jika publik curiga aktivitas ini akan makin meluas dan menciptakan kerusakan permanen yang mustahil dipulihkan.
Negara punya instrumen hukum lengkap, namun mengapa terkesan kalah melawan para perusak hutan?
Karena itu, Rian mendesak keras agar Satgas PKH segera menginjakkan kaki di BMR. Lakukan pemetaan menyeluruh, bongkar, dan tertibkan seluruh aktivitas pertambangan yang merampok kawasan hutan tanpa ampun.
“Satgas PKH harus segera datang ke BMR. Jangan sampai persoalan ini dibiarkan semakin besar. Kalau hutan terus dibuka dan tidak ada penindakan tegas, yang muncul bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga potensi bencana dan persoalan sosial di kemudian hari,” tandas Rian memberi peringatan keras. Jangan tunggu sampai jatuh korban jiwa, baru negara sibuk mencari kambing hitam! (ewa)
Catatan: Rilisan berita ini dikutip dan disadur dari artikel asli yang diterbitkan oleh ManadoPost.id.
















